BIOGRAFI
Pemilik
nama lengkap Kanjeng Pangeran Haryo Selo Soemardjan merupakan tokoh dan pakar
sosiologi dari Indonesia. Prof. Dr. Selo Soemardjan lahir di Yogyakarta pada
tanggal 23 Mei 1915 dan wafat pada 11 Juni 2003 di Jakarta. Selo Soemardjan
hidup dalam lingkungan kesultanan Yogyakarta. [1]Kakeknya,
Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat tinggi di kantor
Kasultanan Yogyakarta. Berkat jasa sang kakek, Selo Soemardjan mendapat
pendidikan Belanda. Beliau menunjukkan ketertarikannya dalam studi sosial. Dari situlah awal karier Selo Soemardjan sebagai seorang
sosiolog.
Selo Soemardjan dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia
karena peran besarnya dalam merintis, mengembangkan, dan melembagakan ilmu
sosiologi di Indonesia. Melalui karya dan pengabdiannya, ia berhasil
memperkenalkan pendekatan ilmiah dalam memahami perubahan sosial masyarakat
Indonesia, khususnya pada masa awal kemerdekaan. Ia menempuh pendidikan awal di
Yogyakarta dan kemudian melanjutkan studi ke luar negeri. Ia
memperoleh gelar doktor sosiologi dari Cornell University, Amerika Serikat.
Ia
berperan besar dalam pengembangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
di Universitas Indonesia. Ia juga aktif mengajar dan membimbing generasi awal
sosiolog Indonesia. Disertasinya yang berjudul Social Changes in Yogyakarta
(1962) membahas perubahan sosial masyarakat Yogyakarta setelah kemerdekaan
Indonesia. Perubahan- perubahan itu terjadi pada institusi-institusi
kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya,
termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara
kelompokkelompok dalam Masyarakat[2]. Karya tersebut menjadi salah satu studi klasik dalam
kajian perubahan sosial dan modernisasi di Indonesia. Pemikirannya hingga kini
masih menjadi rujukan utama dalam pembelajaran sosiologi di sekolah maupun
perguruan tinggi.
ESENSI TEORI
Selo Soemardjan merupakan tokoh penting dalam perkembangan ilmu sosiologi
di Indonesia. Ia tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga sebagai
praktisi pemerintahan dan pemikir sosial. Melalui karya dan dedikasinya,
sosiologi berkembang menjadi disiplin ilmu yang kokoh di Indonesia.
Selo Soemardjan lebih melihat perubahan sosial itu
dari kaca mata
perubahan lembaga-lembaga
kemasyarakatan di dalam
suatu masyarakat. Perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan itu mempengaruhi
sistem sosialnya termasuk di
dalamnya nilai-nilai, sikap,
dan pola perilaku di
antara kelompok-kelompok dalam masyarakat[3]. Pengertian
perubahan sosial menurut Soemardjan ini
tidak berbeda jauh
dengan Kingsley Davis yang
mengartikan perubahan sosial sebagai
perubahan-perubahan yang
terjadi dalam struktur
dan fungsi masyarakat (Soekanto, 1990). Ketika
struktur masyarakat berubah, maka
fungsi dan peran,
pola pikir dan
pola sikap masyarakat pun
berubah.
Disertasi Social Changes in Yogyakarta (1962) yang
ditulis oleh Selo Soemardjan dan diterbitkan oleh Cornell University Press
merupakan kajian klasik tentang perubahan sosial di Yogyakarta setelah
kemerdekaan Indonesia (1945).
Inti Pokok Disertasi
1.
Perubahan
Struktur Kekuasaan
Setelah kemerdekaan Indonesia, sistem kekuasaan di Yogyakarta mengalami
perubahan besar dari sistem feodal (berbasis kerajaan) menuju sistem
pemerintahan modern yang lebih demokratis. → Terjadi pergeseran otoritas dari
bangsawan ke birokrasi modern dan kelompok terdidik.
2.
Perubahan
Lembaga Sosial
Lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemerintahan, pendidikan,
ekonomi, dan keluarga mengalami penyesuaian terhadap sistem nasional yang baru.
3.
Munculnya
Kelompok Sosial Baru
Kemerdekaan membuka kesempatan mobilitas sosial. → Kaum terpelajar, pegawai negeri, dan kelompok
profesional mulai menggantikan dominasi elite tradisional.
4.
Modernisasi
dan Konflik Sosial
Proses modernisasi tidak selalu berjalan mulus. → Terjadi
ketegangan antara nilai tradisional (keraton, adat, hierarki) dan nilai modern
(demokrasi, rasionalitas, birokrasi).
5.
Perubahan
Sosial sebagai Proses Bertahap
Selo Soemardjan menekankan bahwa perubahan sosial tidak
terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses adaptasi yang kompleks dan
bertahap.
Perubahan sosial merupakan suatu proses pergeseran
struktur atau tatanan didalam masyarakat, yang meliputi pola pikir yang lebih
inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang
lebih bermartabat. Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial
merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam
masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih
terjadi interaksi antarmanusia dan antar masyarakat.
Gejala perubahan sosial dalam masyarakat dapat dilihat
dari terjadinya perubahan sistem nilai maupun norma yang berlaku saat itu dan
yang tidak berlaku lagi dalam masyarakat. Tentu saja, perubahan sosial ini
terjadi bukan semata mata karena individu dalam masyarakat tersebut yang mau
berubah, akan tetapi karena adanya perkembangan.
PENERAPAN TEORI
Berbicara mengenai perubahan tentu saja tidak lepas dari
peranan manusia, karena manusia merupakan makhluk sosial. Hal yang melatar
belakangi manusia ingin melakukan perubahan karena ingin mendapatkan kondisi
yang lebih baik dari sebelumnya. Hampir tiap saat manusia mengalami perubahan
seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Perubahan-perubahan tersebut
bisa bersifat dinamis atau bahkan berputar.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Ketapang
mengalami peningkatan jumlah warung kopi yang cukup signifikan. Warung kopi
tidak lagi sekadar tempat minum kopi, tetapi berkembang menjadi ruang interaksi
sosial, diskusi, kerja, bahkan tempat berkumpul komunitas. Fenomena ini
menunjukkan adanya dinamika sosial dalam masyarakat. Untuk menganalisis fenomena
munculnya banyak warung kopi di Kabupaten Ketapang berdasarkan pandangan
perubahan sosial Selo Soemardjan dibuat bagan sebagai berikut:
Perubahan Ekonomi
Lokal
+
Perkembangan
Teknologi (Internet, Media Sosial)
+
Modernisasi Gaya
Hidup
↓
Perubahan Lembaga
Sosial dan Ekonomi
↓
Perubahan Nilai &
Pola Interaksi
↓
Munculnya Warung Kopi
sebagai Ruang Sosial Baru
↓
Terbentuknya Pola
Sosial Baru di Masyarakat Ketapang
Teori perubahan sosial menurut Selo Soemardjan
menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga
kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya,
termasuk nilai, sikap, dan pola perilaku masyarakat. Ketika lembaga sosial berubah, maka pola interaksi, gaya
hidup, dan aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut berubah. Dengan demikian,
perubahan sosial tidak hanya terjadi karena faktor politik, tetapi juga dapat
dipicu oleh faktor ekonomi, teknologi, pendidikan, dan budaya.
Berdasarkan teori perubahan sosial dari Selo Soemardjan,
fenomena ini terjadi karena adanya perubahan dalam lembaga ekonomi dan sosial
yang memengaruhi sistem sosial masyarakat secara keseluruhan. Munculnya banyak
warung kopi di Ketapang menunjukkan adanya perubahan pada lembaga ekonomi
melalui diversifikasi usaha masyarakat, serta perubahan pada lembaga sosial
dengan hadirnya ruang interaksi baru. Banyaknya warung kopi yang bermunculan di
Kabupaten Ketapang tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat. Saat
ini, khususnya generasi muda, menjadikan warung kopi bukan sekadar tempat untuk
menikmati minuman, tetapi juga sebagai ruang untuk bersosialisasi dan
mengekspresikan diri. Warung kopi menjadi bagian dari gaya hidup modern yang
mencerminkan identitas, pergaulan, dan tren kekinian di tengah masyarakat.
Selain itu, perkembangan teknologi dan internet turut
mendorong pertumbuhan warung kopi. Sebagian besar warung kopi menyediakan
fasilitas Wi-Fi yang menarik minat pelajar, mahasiswa, hingga pekerja. Tempat
ini kemudian berkembang menjadi ruang belajar, bekerja, mengerjakan tugas,
hingga mengakses media sosial. Kehadiran teknologi menjadikan warung kopi lebih
relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Pertumbuhan ekonomi lokal juga menjadi faktor penting
munculnya banyak warung kopi di Kabupaten Ketapang. Meningkatnya peluang usaha
mendorong masyarakat untuk membuka bisnis yang relatif mudah dijalankan dan
memiliki pasar yang luas. Warung kopi dianggap sebagai usaha yang menjanjikan
karena permintaan yang terus meningkat serta modal yang dapat disesuaikan
dengan kemampuan pemilik usaha.
Di sisi lain, terjadi perubahan pola interaksi sosial
dalam masyarakat. Jika dahulu masyarakat lebih sering berkumpul di rumah atau
balai desa, kini warung kopi menjadi ruang publik baru untuk berdiskusi,
mengadakan rapat kecil, hingga melaksanakan kegiatan komunitas. Warung kopi
berfungsi sebagai pusat interaksi sosial yang lebih fleksibel dan terbuka bagi
berbagai kalangan.
Lebih lanjut, perubahan ini juga memengaruhi nilai dan
pola perilaku masyarakat. Aktivitas “minum kopi” tidak lagi sekadar kebutuhan
konsumsi, tetapi telah berkembang menjadi simbol gaya hidup dan modernitas.
Sebagaimana dijelaskan dalam Social Changes in Yogyakarta, ketika struktur
sosial berubah, masyarakat akan menyesuaikan diri dengan pola yang baru. Dalam
konteks Kabupaten Ketapang, perubahan ekonomi, teknologi, dan gaya hidup telah
memicu lahirnya warung kopi sebagai bagian dari transformasi sosial yang sedang
berlangsung.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
munculnya banyak warung kopi di Kabupaten Ketapang merupakan dampak dari
perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi lokal, dan
perubahan pola interaksi sosial masyarakat. Warung kopi tidak lagi sekadar
tempat untuk minum, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik modern yang
mendukung aktivitas sosial, belajar, bekerja, dan kegiatan komunitas. Sejalan
dengan teori perubahan sosial dari Selo Soemardjan, perubahan pada lembaga ekonomi
dan sosial memengaruhi sistem sosial secara keseluruhan, sehingga lahirnya
warung kopi di Ketapang dapat dipahami sebagai bagian dari proses transformasi
sosial masyarakat yang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
[1] Aletheia Rabbani. 2024. Bapak Sosiologi
Indonesia. Online. https://www.sosiologi79.com/2017/04/selo- soemardjan.html
(diakses pada 2 November 2024)
[2] Soekanto, Soerjono, dan Budi Sulistyowati. 2015. Sosiologi Suatu Pengantar.
47th ed. Depok: Rajawali Press.
[3] Jelamu Ardu Marius. 2006. Kajian Analitik. Jurnal Penyuluhan:
September 2006, Vol. 2, No. 2
No comments:
Post a Comment