Tuesday, February 17, 2026

WARUNG KOPI DALAM PANDANGAN BAPAK SOSIOLOGI INDONESIA

BAPAK SOSIOLOGI INDONESIA

BIOGRAFI

Pemilik nama lengkap Kanjeng Pangeran Haryo Selo Soemardjan merupakan tokoh dan pakar sosiologi dari Indonesia. Prof. Dr. Selo Soemardjan lahir di Yogyakarta pada tanggal 23 Mei 1915 dan wafat pada 11 Juni 2003 di Jakarta. Selo Soemardjan hidup dalam lingkungan kesultanan Yogyakarta. [1]Kakeknya, Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat tinggi di kantor Kasultanan Yogyakarta. Berkat jasa sang kakek, Selo Soemardjan mendapat pendidikan Belanda. Beliau menunjukkan ketertarikannya dalam studi sosial. Dari situlah awal karier Selo Soemardjan sebagai seorang sosiolog. 

Selo Soemardjan dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia karena peran besarnya dalam merintis, mengembangkan, dan melembagakan ilmu sosiologi di Indonesia. Melalui karya dan pengabdiannya, ia berhasil memperkenalkan pendekatan ilmiah dalam memahami perubahan sosial masyarakat Indonesia, khususnya pada masa awal kemerdekaan. Ia menempuh pendidikan awal di Yogyakarta dan kemudian melanjutkan studi ke luar negeri. Ia memperoleh gelar doktor sosiologi dari Cornell University, Amerika Serikat.

Ia berperan besar dalam pengembangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Indonesia. Ia juga aktif mengajar dan membimbing generasi awal sosiolog Indonesia. Disertasinya yang berjudul Social Changes in Yogyakarta (1962) membahas perubahan sosial masyarakat Yogyakarta setelah kemerdekaan Indonesia. Perubahan- perubahan itu terjadi pada institusi-institusi kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompokkelompok dalam Masyarakat[2]. Karya tersebut menjadi salah satu studi klasik dalam kajian perubahan sosial dan modernisasi di Indonesia. Pemikirannya hingga kini masih menjadi rujukan utama dalam pembelajaran sosiologi di sekolah maupun perguruan tinggi.

ESENSI TEORI

Selo Soemardjan merupakan tokoh penting dalam perkembangan ilmu sosiologi di Indonesia. Ia tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga sebagai praktisi pemerintahan dan pemikir sosial. Melalui karya dan dedikasinya, sosiologi berkembang menjadi disiplin ilmu yang kokoh di Indonesia.

Selo Soemardjan lebih melihat perubahan sosial itu dari  kaca  mata  perubahan  lembaga-lembaga kemasyarakatan  di  dalam  suatu  masyarakat. Perubahan  lembaga-lembaga  kemasyarakatan itu  mempengaruhi  sistem  sosialnya  termasuk di   dalamnya   nilai-nilai,   sikap,   dan   pola perilaku  di  antara  kelompok-kelompok  dalam masyarakat[3].  Pengertian  perubahan  sosial  menurut Soemardjan  ini  tidak  berbeda  jauh  dengan Kingsley  Davis  yang  mengartikan  perubahan sosial    sebagai    perubahan-perubahan    yang terjadi  dalam  struktur  dan  fungsi  masyarakat (Soekanto, 1990).  Ketika  struktur  masyarakat  berubah, maka  fungsi  dan  peran,  pola  pikir  dan  pola sikap  masyarakat    pun  berubah.

Disertasi Social Changes in Yogyakarta (1962) yang ditulis oleh Selo Soemardjan dan diterbitkan oleh Cornell University Press merupakan kajian klasik tentang perubahan sosial di Yogyakarta setelah kemerdekaan Indonesia (1945).

Inti Pokok Disertasi

1.          Perubahan Struktur Kekuasaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, sistem kekuasaan di Yogyakarta mengalami perubahan besar dari sistem feodal (berbasis kerajaan) menuju sistem pemerintahan modern yang lebih demokratis. → Terjadi pergeseran otoritas dari bangsawan ke birokrasi modern dan kelompok terdidik.

2.          Perubahan Lembaga Sosial

Lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan keluarga mengalami penyesuaian terhadap sistem nasional yang baru.

3.          Munculnya Kelompok Sosial Baru

Kemerdekaan membuka kesempatan mobilitas sosial. → Kaum terpelajar, pegawai negeri, dan kelompok profesional mulai menggantikan dominasi elite tradisional.

4.          Modernisasi dan Konflik Sosial

Proses modernisasi tidak selalu berjalan mulus. → Terjadi ketegangan antara nilai tradisional (keraton, adat, hierarki) dan nilai modern (demokrasi, rasionalitas, birokrasi).

5.          Perubahan Sosial sebagai Proses Bertahap

Selo Soemardjan menekankan bahwa perubahan sosial tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses adaptasi yang kompleks dan bertahap.

 

Perubahan sosial merupakan suatu proses pergeseran struktur atau tatanan didalam masyarakat, yang meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat. Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia dan antar masyarakat.

Gejala perubahan sosial dalam masyarakat dapat dilihat dari terjadinya perubahan sistem nilai maupun norma yang berlaku saat itu dan yang tidak berlaku lagi dalam masyarakat. Tentu saja, perubahan sosial ini terjadi bukan semata mata karena individu dalam masyarakat tersebut yang mau berubah, akan tetapi karena adanya perkembangan.

 

PENERAPAN TEORI

Berbicara mengenai perubahan tentu saja tidak lepas dari peranan manusia, karena manusia merupakan makhluk sosial. Hal yang melatar belakangi manusia ingin melakukan perubahan karena ingin mendapatkan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Hampir tiap saat manusia mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Perubahan-perubahan tersebut bisa bersifat dinamis atau bahkan berputar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Ketapang mengalami peningkatan jumlah warung kopi yang cukup signifikan. Warung kopi tidak lagi sekadar tempat minum kopi, tetapi berkembang menjadi ruang interaksi sosial, diskusi, kerja, bahkan tempat berkumpul komunitas. Fenomena ini menunjukkan adanya dinamika sosial dalam masyarakat. Untuk menganalisis fenomena munculnya banyak warung kopi di Kabupaten Ketapang berdasarkan pandangan perubahan sosial Selo Soemardjan dibuat bagan sebagai berikut:

 

Perubahan Ekonomi Lokal

+

Perkembangan Teknologi (Internet, Media Sosial)

+

Modernisasi Gaya Hidup

Perubahan Lembaga Sosial dan Ekonomi

Perubahan Nilai & Pola Interaksi

Munculnya Warung Kopi sebagai Ruang Sosial Baru

Terbentuknya Pola Sosial Baru di Masyarakat Ketapang

 

Teori perubahan sosial menurut Selo Soemardjan menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap, dan pola perilaku masyarakat. Ketika lembaga sosial berubah, maka pola interaksi, gaya hidup, dan aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut berubah. Dengan demikian, perubahan sosial tidak hanya terjadi karena faktor politik, tetapi juga dapat dipicu oleh faktor ekonomi, teknologi, pendidikan, dan budaya.

Berdasarkan teori perubahan sosial dari Selo Soemardjan, fenomena ini terjadi karena adanya perubahan dalam lembaga ekonomi dan sosial yang memengaruhi sistem sosial masyarakat secara keseluruhan. Munculnya banyak warung kopi di Ketapang menunjukkan adanya perubahan pada lembaga ekonomi melalui diversifikasi usaha masyarakat, serta perubahan pada lembaga sosial dengan hadirnya ruang interaksi baru. Banyaknya warung kopi yang bermunculan di Kabupaten Ketapang tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat. Saat ini, khususnya generasi muda, menjadikan warung kopi bukan sekadar tempat untuk menikmati minuman, tetapi juga sebagai ruang untuk bersosialisasi dan mengekspresikan diri. Warung kopi menjadi bagian dari gaya hidup modern yang mencerminkan identitas, pergaulan, dan tren kekinian di tengah masyarakat.

Selain itu, perkembangan teknologi dan internet turut mendorong pertumbuhan warung kopi. Sebagian besar warung kopi menyediakan fasilitas Wi-Fi yang menarik minat pelajar, mahasiswa, hingga pekerja. Tempat ini kemudian berkembang menjadi ruang belajar, bekerja, mengerjakan tugas, hingga mengakses media sosial. Kehadiran teknologi menjadikan warung kopi lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Pertumbuhan ekonomi lokal juga menjadi faktor penting munculnya banyak warung kopi di Kabupaten Ketapang. Meningkatnya peluang usaha mendorong masyarakat untuk membuka bisnis yang relatif mudah dijalankan dan memiliki pasar yang luas. Warung kopi dianggap sebagai usaha yang menjanjikan karena permintaan yang terus meningkat serta modal yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pemilik usaha.

Di sisi lain, terjadi perubahan pola interaksi sosial dalam masyarakat. Jika dahulu masyarakat lebih sering berkumpul di rumah atau balai desa, kini warung kopi menjadi ruang publik baru untuk berdiskusi, mengadakan rapat kecil, hingga melaksanakan kegiatan komunitas. Warung kopi berfungsi sebagai pusat interaksi sosial yang lebih fleksibel dan terbuka bagi berbagai kalangan.

Lebih lanjut, perubahan ini juga memengaruhi nilai dan pola perilaku masyarakat. Aktivitas “minum kopi” tidak lagi sekadar kebutuhan konsumsi, tetapi telah berkembang menjadi simbol gaya hidup dan modernitas. Sebagaimana dijelaskan dalam Social Changes in Yogyakarta, ketika struktur sosial berubah, masyarakat akan menyesuaikan diri dengan pola yang baru. Dalam konteks Kabupaten Ketapang, perubahan ekonomi, teknologi, dan gaya hidup telah memicu lahirnya warung kopi sebagai bagian dari transformasi sosial yang sedang berlangsung.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa munculnya banyak warung kopi di Kabupaten Ketapang merupakan dampak dari perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi lokal, dan perubahan pola interaksi sosial masyarakat. Warung kopi tidak lagi sekadar tempat untuk minum, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik modern yang mendukung aktivitas sosial, belajar, bekerja, dan kegiatan komunitas. Sejalan dengan teori perubahan sosial dari Selo Soemardjan, perubahan pada lembaga ekonomi dan sosial memengaruhi sistem sosial secara keseluruhan, sehingga lahirnya warung kopi di Ketapang dapat dipahami sebagai bagian dari proses transformasi sosial masyarakat yang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.



[1] Aletheia Rabbani. 2024. Bapak Sosiologi Indonesia. Online. https://www.sosiologi79.com/2017/04/selo-    soemardjan.html (diakses pada 2 November 2024)

[2] Soekanto, Soerjono, dan Budi Sulistyowati. 2015. Sosiologi Suatu Pengantar. 47th ed. Depok: Rajawali Press.

[3] Jelamu Ardu Marius. 2006. Kajian Analitik. Jurnal Penyuluhan: September 2006, Vol. 2, No. 2


No comments:

Post a Comment